LAMPUNG – Pemerintah Pusat mengapresiasi langkah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, melalui keputusannya yang cepat, menindaklanjuti…
Penulis: admin
Unila Umumkan Hasil SNBT 2025: 5.444 Peserta Diterima, Program Studi Hukum Paling Diminati
Lampung – Universitas Lampung (Unila) resmi mengumumkan hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025 dalam konferensi…
Pelayanan Gratis dan Responsif, Bandar Lampung Tuai Apresiasi dari Bima Arya
Bandar Lampung — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto memberikan apresiasi atas pelayanan publik di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bandar Lampung saat melakukan kunjungan mendadak (sidak) pada Rabu (28/5).
Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya menilai pelayanan publik di Kota Bandar Lampung menunjukkan kemajuan signifikan. Ia secara langsung mencoba sistem pelayanan administrasi kependudukan yang tersedia secara daring maupun luring.
“Pelayanannya bagus. Tadi saya mencoba bisa online, bisa juga offline. Jadi masyarakat bisa daftar dan cetak dokumen dari rumah,” ujar Bima Arya di hadapan Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana.
Bima Arya juga memberikan pujian atas layanan ambulans gratis 24 jam yang disediakan Pemerintah Kota. Menurutnya, fasilitas ini sangat membantu masyarakat dalam kondisi darurat. “Tadi saya lihat ada ambulans gratis di Tugu Adipura. Itu sangat bermanfaat,” tambahnya.
Menanggapi apresiasi tersebut, Wali Kota Eva Dwiana mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kunjungan Wamendagri ke Kota Tapis Berseri. Ia menyebut bahwa kunjungan tersebut dilakukan secara mendadak dan langsung menuju ke MPP.
“Ini kunjungan yang mengejutkan, Pak Bima langsung ke mal pelayanan. Kami tentu senang karena ini jadi motivasi untuk terus berbenah,” ujar Eva.
Eva juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota dalam memberikan pelayanan administrasi kependudukan yang cepat, mudah, dan gratis. “Semua pelayanan Disdukcapil gratis. Kami akan terus berinovasi agar pelayanan publik di Bandar Lampung semakin baik ke depannya,” tutupnya.
MK Minta Pemerintah Gratiskan SD-SMP Swasta
Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan bahwa pemerintah wajib menjamin pendidikan gratis untuk jenjang Sekolah Dasar…
Sinergi Media dan Pemerintah Perkuat Peran Lampung dalam Ketahanan Pangan Nasional
LAMPUNG – Provinsi Lampung kembali menegaskan perannya sebagai lumbung pangan nasional melalui diskusi publik bertajuk “Pers Mengawal…
Komisi II DPRD Lamsel Minta Desak Dinas Perdagangan dan Pasar Tertibkan dan Tata Ulang Pemilik Kios
Lampung Selatan — Komisi II DPRD Lampung Selatan meminta Dinas Perdagangan dan Pasar untuk segera melakukan…
Pemerintah Luncurkan Enam Stimulus Ekonomi Mulai Juni 2025, Siapa Saja yang Bisa Dapat?
Jakarta — Presiden Prabowo akan meluncurkan enam paket stimulus ekonomi mulai 5 Juni 2025. Langkah ini diambil…
Dekan FEB Unila Diduga Bungkam Kasus Kekerasan dan Pelanggaran Etik Ormawa, Mahasiswa Gelar Aksi
Lampung — Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi FEB Menggugat menggelar aksi unjuk rasa di pelataran Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila), menuntut penyelesaian atas dugaan kasus kekerasan serta pelanggaran etik yang melibatkan organisasi kemahasiswaan (Ormawa).
Aksi dimulai sejak pagi hari, dengan massa berkumpul pukul 08.00 WIB dan mulai bergerak menuju pelataran dekanat pada pukul 10.00 WIB. Demonstrasi ini menyoroti berbagai permasalahan di lingkungan FEB Unila, seperti dugaan kurangnya transparansi, ketimpangan struktural, keterbatasan fasilitas kampus, serta dugaan pembiaran terhadap tindakan kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh oknum Ormawa.

Isu utama dalam aksi tersebut adalah dugaan tindakan kekerasan disertai intimidasi, yang menurut massa belum mendapat respons tegas dari pihak Dekanat. Para mahasiswa menilai bahwa Dekanat belum menunjukkan upaya perlindungan dan penegakan etika sebagaimana mestinya.
“Berdasarkan bukti rekam medis, kesaksian korban dan keluarga, serta data percakapan digital, telah terjadi kekerasan dan intimidasi. Namun hingga kini, belum ada langkah konkret dari pihak Dekanat. Ini kami nilai sebagai bentuk pembiaran,” ujar Jenderal Lapangan aksi, M. Zidan Azzakri.
Dalam orasinya, massa menyampaikan empat tuntutan utama:
-
Pembubaran Ormawa yang terbukti melakukan kekerasan dan pelanggaran etik;
-
Proses hukum dan etik terhadap pelaku;
-
Klarifikasi publik secara terbuka dari pihak dekanat;
-
Penghentian segala bentuk intimidasi dan tekanan terhadap korban.
Pertemuan antara perwakilan mahasiswa dan pimpinan fakultas, termasuk Dekan serta Wakil Dekan I dan III yang berlangsung sekitar pukul 10.30 WIB, belum membuahkan hasil signifikan. Mahasiswa menyayangkan penolakan pihak Dekanat untuk menandatangani Pakta Integritas yang mereka ajukan sebagai bentuk komitmen terhadap tuntutan yang disampaikan.
“Penolakan itu mencerminkan sikap tidak serius dalam menyelesaikan masalah ini,” tambah Zidan.
Selain isu kekerasan, mahasiswa juga menyoroti persoalan transparansi pengelolaan dana, perlunya evaluasi terhadap kinerja staf, serta pembenahan fasilitas akademik. Mereka menyoroti khususnya kondisi di Gedung F yang disebut kekurangan pendingin ruangan, proyektor, dan perangkat komputer untuk menunjang kegiatan belajar.
Aksi ditutup pada pukul 12.00 WIB tanpa respons konkret dari pihak kampus. Aliansi FEB Menggugat menyatakan akan melanjutkan perjuangan mereka melalui aksi lanjutan yang direncanakan dalam waktu dekat, serta mengajak seluruh mahasiswa Unila untuk turut terlibat.
“Kami akan terus menekan pihak Dekanat hingga mereka menunjukkan komitmen nyata terhadap keadilan dan transparansi,” pungkas Zidan.