Wajah Kotabumi yang Bersih: Bukan Sekadar Soal Sampah, Tapi Peluang Hidup

Sudutfakta.com Lampung Utara – Siapa yang tak mengenal kawasan stadion di Kotabumi? Tempat ini bukan sekadar ikon daerah, melainkan ruang publik yang menjadi pusat berbagai aktivitas—mulai dari kegiatan formal hingga nonformal. Dahulu, stadion menjadi satu-satunya titik keramaian, tempat konser, pameran, hingga ajang berkumpul masyarakat.

Seiring waktu, wajah kawasan ini sempat mengalami penurunan. Persoalan klasik seperti sampah menjadi pemandangan yang mengganggu. Bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga rendahnya kesadaran sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.

Namun di tengah kondisi itu, muncul sosok sederhana yang menghadirkan perubahan nyata. Ia adalah Bambang—pria paruh baya dengan sikap lugu dan ketulusan yang tak dibuat-buat. Tanpa dukungan anggaran, tanpa kontrak dari vendor atau pemerintah, Bambang memilih bertindak.

Setiap hari, sejak subuh hingga sore, ia rutin membersihkan area stadion. Seolah ada panggilan batin yang membuatnya terus kembali ke tempat yang bagi sebagian orang mungkin dianggap kotor dan tak layak. Apa yang ia lakukan bukan perkara mudah—terlebih ketika masih banyak orang yang abai dan tetap membuang sampah sembarangan.

Bagi Bambang, kebersihan bukan sekadar soal estetika. Ia menyimpan mimpi sederhana: menjadikan wajah Kotabumi bersih, nyaman, dan membanggakan di mata siapa pun yang datang. Sebuah mimpi yang mungkin terdengar biasa, namun tidak semua orang mau memperjuangkannya.

Ironisnya, di balik dedikasi itu, Bambang juga memikul beban hidup yang tidak ringan. Sang istri tengah berjuang melawan penyakit serius berupa stroke yang menyebabkan kelumpuhan. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap berbuat bagi lingkungan.

Dari sosok Bambang, kita belajar bahwa kepedulian tidak selalu lahir dari kelimpahan, melainkan dari kesadaran dan rasa memiliki. Ia mengajarkan tentang etika, adab, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.

Stadion Kotabumi adalah milik kita semua. Kebersihannya bukan hanya tanggung jawab satu orang, melainkan cerminan dari kesadaran kolektif masyarakat. Apa yang dilakukan Bambang seharusnya menjadi pengingat—bahwa perubahan bisa dimulai dari satu langkah kecil, dan dari satu orang yang peduli.

 

Penulis :Hefki