Bocah 5 Tahun Dicabuli Remaja di Toilet Masjid
Jakarta – Seorang anak perempuan berusia 5 tahun dicabuli oleh teman prianya yang masih berusia 14…
Danrem 043/Gatam Bersama Anggota Makorem Melaksanakan Kegiatan Syukuran HUT Kodam II/Sriwijaya ke-79
LAMPUNG – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kodam II/Sriwijaya yang ke-79 Tahun 2025, Danrem 043/Gatam Brigjen TNI Rikas Hidayatullah, S.E., M.M., bersama dengan anggota Makorem melaksanakan kegiatan syukuran yang berlangsung di Ruang A. Yani Makorem 043/Gatam Jl.Teuku Umar Penengahan Bandar Lampung. Selasa (07/01/2025)
Kegiatan yang diawali dengan do’a bersama sebagai ungkapan syukur atas perjalan, pencapaian serta dedikasi Kodam II/Sriwijaya selama ini, acara dihadiri Kasrem 043/Gatam Kolonel Inf Enjang, S.I.P., M.Han, para Kasi Kasrem 043/Gatam, Ketua Persit KCK Koorcabrem 043 PD II/Sriwijaya Ny.Hanny Rikas Hidayatullah, Para Dan/Ka Satdisjan Jajaran Korem 043/Gatam, seluruh prajurit dan pegawai negeri sipil di lingkungan Korem 043/Gatam,
Pangdam ll/Swj Mayjen TNI M. Naudi Nurdika, S.I.P., M.Si, M.Tr (Han) dalam sambutannya yang dibacakan Danrem 043/Gatam Brigjen TNI Rikas Hidayatullah, S.E., M.M., menyampaikan acara yang dilaksanakan merupakan wujud rasa syukurnya prajurit dan PNS beserta keluarga besar Kodam II/Swj yang pada hari ini melaksanakan syukuran, kegiatan ini bukan hanya merayakan sejarah panjang pengabdian Kodam ll/Swj sebagai bagian dari TNI / TNI AD dan masyarakat Sumbagsel, tetapi juga untuk mengenang, menghormati dan menghargai jasa, pengorbanan dan perjuangan para pendahulu Kodam ll/Swj hingga mencapai kondisi seperti sekarang ini.
“Oleh sebab itu, sebagai generasi penerus, kita sepatutnya meneladani dan mewarisi nilai-nilai kejuangan para pendahulu, sekaligus meneguhkan tekad untuk melanjutkan dan meningkatkan kualitas pengabdian dan etos kerja, sebagai bayangkari dan abdi Negara, jadikan momentum peringatan hari ulang tahun ini, sebagai sarana evaluasi, refleksi dan introspeksi atas pelaksanaan tugas setahun lalu, sekaligus sebagai tonggak baru untuk membangun komitmen yang lebih baik, guna menghadapi tugas-tugas di masa mendatang, “tuturnya.
Selanjutnya Pangdam juga menjelaskan selama 79 Tahun berkiprah dan pengabdian Kodam ll/Swj telah memberikan kontribusi yang positif dan signifikan, sesuai peran dan tugasnya, baik sebagai kotama operasi dalam menyelenggarakan operasi pertahanan dan keamanan negara matra darat, maupun sebagai kotama pembinaan dalam menyelenggarakan pembinaan kekuatan, kemampuan dan gelar kekuatan serta melaksanakan pembinaan teritorial untuk menyiapkan wilayah pertahanan di darat menjaga keamanan di wilayah Sumatera Bagian Selatan.
“Kodam Il/Swj juga telah berkontribusi pada berbagai program dalam membantu tugas Pemerintah Daerah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendukung program unggulan Kasad serta Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, program-program yang sudah berjalan selama ini seperti pembangunan RTLH dan MCK, Sumur Bor/Air Bersih, penanganan stunting, bersatu dengan alam dan ketahanan pangan serta makan sehat bergizi perlu terus kita upayakan dan laksanakan dengan maksimal, “
“Apa yang dilakukan Kodam Il/Swj beserta jajarannya selama ini telah memberikan kontribusi yang besar dan positif bagi masyarakat, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa Kodam Il/Swj menjadi bagian dari solusi masyarakat sumbagsel, saya berharap setiap prajurit dan satuan jajaran Kodam Il/Swj secara proaktif, kreatif dan inovatif, terus melakukan langkah dan tindakan nyata serta berdampak bagi kesejahteraan rakyat selanjutnya, laksanakan setiap tugas dengan ikhlas. dilandasi niat ibadah, serta hindari segala bentuk pelanggaran hukum sekecil apapun,karena tugas kita semata-mata adalah untuk kepentingan rakyat, Bangsa dan Negara, “pungkasnya. (Susan)
Komisi IV DPRD Pesawaran Dampingi Anak Korban Kekerasan
Pesawaran – Kekerasan terhadap anak kembali terjadi. Seorang bocah di bawah umur dianiaya guru ngaji karena dituduh mencuri. Kasus ini mendapat perhatian serius Ketua Komisi IV DPRD Pesawaran Muhammad Rinaldi dan sejumlah anggota komisi lainnya.
Tindakan main hakim sendiri ini bermula saat korban MRA (9) dipaksa kawan-kawannya untuk mencuri. Jika tidak mau, maka korban akan dimusuhi. Karena takut akhirnya korban masuk ke rumah seorang ustadz di sebuah pondok pesantren di Desa Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran.
Apes, saat masuk area pondok, korban tertangkap pemilik kawasan pondok pesantren. Seorang ustadz kalap. Korban digebuki hingga babak belur. Tak puas, korban disundut besi panas di punggung, perut dan tangannya. Korban juga dipaksa mengaku nyolong duit Rp 10 juta.
“Begitu dapat laporan tentang kasus penganiayaan anak di bawah umur ini, saya langsung berkoordinasi dengan ibu Maisuri. Saya minta tolong untuk mengawal kasusnya. Malam itu juga Alhamdulillah dinas langsung turun untuk pendampingan korban,” ujar Rinaldi saat ditemui di lokasi kejadian.
Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Pesawaran Maisuri bergerak cepat.
“Malam itu kami langsung kirim staf untuk dampingi korban ke rumah sakit melakukan visum. Saat ini sedang dilakukan BAP oleh pihak kepolisian untuk proses hukumnya. Kami juga siap memberikan bantuan konsultasi psikiater apabila dibutuhkan oleh korban,” jelas Maisuri.
Menanggapi ini, Sekretaris Komisi IV, Yasser Syamsurya Ryacudu sangat menyayangkan kasus kekerasan pada anak di bawah umur yang terjadi di pondok pesantren.
“Praktek main hakim sendiri seperti ini kan menyalahi aturan hukum, apalagi ini korbannya anak-anak yang masih bisa dibina dengan teguran,” ujar Yasser. Informasi yang diterima, pondok pesantren tersebut ternyata belum berizin. (*)
Perambah Hutan Diduga Penyebab Konflik Manusia dan Satwa Liar yang Semakin Meluas
Tanggamus – Konflik antara manusia dan satwa liar kembali mencuat, terutama di kawasan hutan, kawasan register, dan taman nasional. Fenomena ini memang kerap terjadi, dan upaya penanggulangan dari petugas melalui berbagai cara sudah dilakukan, namun konflik tersebut masih sulit dihindari.
Salah satu contoh yang terjadi adalah di Kabupaten Tanggamus, tepatnya di Register 39, beberapa waktu lalu. Konflik antara manusia dan satwa liar menimbulkan korban jiwa serta kerusakan pada beberapa gubuk penggarap yang ada di kawasan tersebut.
Ari, seorang penggiat lingkungan dan kehutanan di Kabupaten Tanggamus, menjelaskan bahwa perambahan hutan menjadi salah satu faktor utama penyebab meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar. “Semakin sempitnya habitat hutan bagi satwa liar, seperti gajah dan harimau, menyebabkan mereka mencari wilayah baru, yang seringkali berbenturan dengan aktivitas manusia,” jelas Ari.
Menurutnya, konflik ini juga tidak bisa dipisahkan dari semakin meningkatnya jumlah populasi manusia. “Konflik biasanya terjadi di hutan yang menjadi tempat tinggal satwa liar, akibat perubahan fungsi hutan tersebut, di mana manusia mulai memasuki dan menetap di sana,” tambahnya.
Tidak hanya konflik antara manusia dan satwa liar, di Kabupaten Tanggamus juga terdapat banyak kawasan hutan register yang mengalami kerusakan. Salah satunya adalah kawasan Gunung Tanggamus, Register 30, yang kini sebagian besar gundul akibat alih fungsi lahan menjadi area pertanian sayuran. Kerusakan ini bahkan telah mencapai area pintu rimba.
Ironisnya, kondisi kritis Register 30 di Gunung Tanggamus tampak jelas ketika dilihat dari Kecamatan Gisting, menunjukkan betapa buruknya dampak perambahan hutan.
Ari mengingatkan, seharusnya pemerintah, dalam hal ini KPHL Kotaagung Utara, tidak hanya diam dan harus segera bertindak dengan melakukan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di kawasan hutan serta memberikan bimbingan guna mencari solusi bersama.
Terakhir, Ari mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan dan satwa liar. “Mari kita jaga alam ini agar di masa depan tidak ada lagi konflik antara manusia dan satwa liar, serta kita terhindar dari potensi bencana alam yang bisa terjadi kapan saja. Menjaga kelestarian alam adalah tugas kita bersama, Salam Lestari!” serunya.
(Khoiri)
Korlantas Polri Terapkan Sistem Poin Pelanggaran Lalu Lintas Mulai Januari 2025, ini Aturan Pengurangannya
Jakarta – Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri akan memberlakukan sistem poin pelanggaran untuk pengemudi yang melanggar…
Mahasiswa FKIP Unila Sukses Ikuti Proyek Kemanusiaan di Sandakan dan Negeri Sembilan
Malaysia – Oktober hingga Desember 2024, sebanyak delapan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) sukses melaksanakan Proyek Kemanusiaan 2024 di Malaysia. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Internasional yang digagas oleh Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia. Berlangsung dari Oktober hingga minggu ketiga Desember 2024, program ini menjadi momen penting bagi mahasiswa FKIP Unila untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan lintas negara.
Proyek ini dilaksanakan di dua lokasi utama, yaitu Sandakan dan Negeri Sembilan, Malaysia. Selain berperan aktif dalam kegiatan mengajar, mahasiswa juga mengikuti student mobility di Universiti Malaysia Sabah (UMS) dan Inti International University.
Di Sandakan, tim yang terdiri dari Najwa Trisaqina Yuan (PPKn), Eideline Cathlyana (Pendidikan Bahasa Inggris), Amanda Weldan Krupskaya (Pendidikan Bahasa Inggris), dan Putri Gustia (Pendidikan Kimia) tidak hanya mengikuti perkuliahan di UMS, tetapi juga mengajar di Community Learning Center (CLC). Mereka berbagi ilmu dengan anak-anak dari berbagai latar belakang budaya, mempererat semangat persatuan melalui pendidikan.
Sementara itu, tim di Negeri Sembilan yang melibatkan Adinda Putri Purnamasari (Pendidikan Fisika), Malsa A’innia Sabrina (Pendidikan Bimbingan Konseling), Ari Bima Anto (Pendidikan Bahasa Inggris), dan Muhamad Rayanda (Pendidikan Biologi), mengikuti perkuliahan di Inti International University. Selain itu, mereka mengajar di CLC atau PPWNI di Klang dan Ipoh, membantu meningkatkan potensi anak-anak dengan pendekatan pendidikan yang kreatif dan inklusif.
Selama program, para mahasiswa menghadapi tantangan dalam lingkungan multikultural. Mereka belajar menjalin komunikasi lintas budaya, memahami perbedaan pedagogis, serta menciptakan metode pengajaran yang relevan. Najwa Trisaqina Yuan, salah satu peserta, menyatakan, “Pengalaman ini sangat berharga karena kami tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga langsung terjun ke lapangan. Kami melihat bagaimana pendidikan dapat menjadi jembatan untuk masa depan yang lebih baik.”
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperluas wawasan akademik tetapi juga mengasah keterampilan sosial dan emosional, seperti kerja sama, empati, dan adaptabilitas. Mereka juga menyampaikan terima kasih kepada Dekan FKIP Unila, jajaran fakultas, serta Rektor Universitas Lampung atas dukungan penuh selama program, termasuk bantuan transportasi Indonesia–Malaysia.
Proyek Kemanusiaan 2024 ini memberikan dampak positif bagi mahasiswa dan komunitas lokal di Malaysia. Diharapkan, program ini terus berlanjut untuk menciptakan generasi muda yang peduli dan siap berkontribusi dalam membangun dunia yang inklusif. Sebagai bagian dari program MBKM, inisiatif ini menunjukkan komitmen FKIP Unila dalam membentuk mahasiswa yang kompeten secara akademis sekaligus memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Pemprov Lampung Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi Daerah Bersama Mendagri
BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan…
DPRD Lampung Selatan Bakal Gelar Rapat Banmus Bahas Agenda Pemekaran Wilayah Pada 8/1/25
LAMPUNG SELATAN — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung Selatan menggelar rapat kerja Badan Musyawarah (Banmus)…
Istri Pengacara Korban Penembakan di Bone Diperiksa Polisi, Bawa Bukti Elektronik
Sulsel – Maryam (45), istri pengacara Rudy S. Gani (49), yang tewas ditembak oleh orang tak…
Tim Gabungan Pantau Pergerakan Gajah Liar di Sebrang Sungai Semaka, Tanggamus
Tanggamus – Tim gabungan yang terdiri dari Polsek Semaka, Polsek Wonosobo, anggota TNI Koramil Wonosobo, KPH, BKSDA, Polhut TNBBS, dan tokoh masyarakat setempat intensif memantau pergerakan kelompok gajah liar yang dikenal dengan nama “Bunga” di wilayah Sebrang Sungai Semaka, Pekon Tulung Asahan, pada Senin, 6 Januari 2025.
Kapolsek Semaka, AKP Sutarto, S.H., menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan melalui sistem GPS pada pukul 15.00 WIB. Berdasarkan koordinat yang terpantau (-5.417617, 104.411978), kelompok gajah tersebut diketahui masih berada sekitar 400 meter dari Way Semaka dan berada di luar area permukiman warga.
“Tim telah siap siaga untuk menghalau kelompok gajah ini agar tidak memasuki pemukiman,” ungkap AKP Sutarto, yang bertindak mewakili Kapolres Tanggamus, AKBP Rivanda, S.I.K.
Untuk mencegah potensi konflik antara manusia dan satwa liar, Kapolsek menambahkan, tim gabungan tidak hanya melakukan pemblokadean di sekitar area, tetapi juga menggiring kelompok gajah tersebut ke dalam kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Beberapa alat seperti petasan, suara, dan api digunakan untuk mengarahkan gajah kembali ke habitatnya.
Kapolsek juga menyebutkan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kepala Pekon Tulung Asahan untuk memberikan edukasi dan imbauan kepada warga agar tetap tenang dan tidak panik.
“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mempercayakan penanganan sepenuhnya kepada tim satgas,” tambahnya.
Kelompok gajah “Bunga,” yang berjumlah 18 ekor, masih berada di lokasi tersebut dengan jarak sekitar 10 meter dari mahout (pawang gajah). Tiga mahout yang bertugas—Miskun, Gianto, dan Supri—terus berupaya menggiring gajah menuju arah yang lebih aman.
Langkah koordinasi ini menunjukkan solidaritas yang kuat antara TNI, Polri, BKSDA, dan masyarakat dalam mengatasi potensi konflik satwa liar di Kabupaten Tanggamus. Diharapkan, usaha ini dapat mengurangi potensi kerugian material serta menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut.
[Khoiri]