SIAK, RIAU – ]sudutfakta.com Suasana wisata edukasi berubah menjadi mimpi buruk dalam hitungan detik.
Puluhan murid SD yang semula tertawa dan mendengarkan kisah sejarah, mendadak menjerit histeris saat lantai dua bangunan cagar budaya Tangsi Belanda ambruk dan menelan tubuh-tubuh kecil mereka, Sabtu (31/1/2026).
Peristiwa mengerikan itu terjadi di Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak. Saat itu, 55 murid dan 12 guru SD IT Baitul Ridho Kampung Tawang Kao tengah mengikuti study tour ke bangunan berusia lebih dari dua abad tersebut.
Tak ada yang menyangka, lantai yang mereka pijak—papan kayu tua peninggalan kolonial—menjadi titik runtuhnya petaka.
Pagi yang Berakhir dengan Teriakan Minta Tolong
Sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan tiba di kompleks Tangsi Belanda. Anak-anak tampak berlarian, mengabadikan momen, sementara guru-guru sibuk mengatur barisan.
Mereka kemudian dipandu seorang pemandu wisata naik ke lantai dua untuk melihat ruang bekas barak tentara kolonial.
Saat pemandu mulai menjelaskan sejarah ruangan, lantai berderit keras.
Beberapa anak sempat menoleh ke bawah—dan seketika papan kayu tua itu runtuh.
“BRAKK!”
Lantai ambruk, anak-anak dan guru terhempas ke bawah dari ketinggian empat meter, sebagian tertimpa potongan kayu, balok, dan debu tebal.
Jeritan minta tolong pecah di dalam bangunan tua itu.
Anak Menangis, Darah Mengalir, Guru Panik
Sejumlah murid terlihat tergeletak lemas, beberapa memegangi kepala yang berdarah, lainnya menangis memanggil orang tua. Guru-guru berusaha menarik anak-anak keluar dari reruntuhan dengan tangan kosong.
Warga sekitar dan petugas setempat bergegas masuk membantu evakuasi.
Ambulans datang silih berganti membawa korban ke RSUD Tengku Rafian Siak.
Data Korban
Berdasarkan Dinas Kesehatan Siak:
17 orang korban
15 murid SD
1 guru pendamping
1 pemandu wisata
Kondisi korban:
1 luka berat (dirujuk ke Pekanbaru)
6 luka sedang
3 luka ringan
7 observasi lalu dipulangkan
Polisi Segel Lokasi
Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar memastikan lantai runtuh karena papan kayu sudah lapuk dan rapuh, tak mampu menahan beban puluhan orang.
“Begitu rombongan berada di ruangan lantai dua, lantai tidak kuat dan langsung runtuh,” ujarnya.
Kompleks Tangsi Belanda kini ditutup dan disegel untuk penyelidikan.
Tangisan Disambut Pelukan Bupati
Bupati Siak Afni Zulkifli datang langsung ke rumah sakit. Ia memeluk anak-anak yang trauma, menggenggam tangan mereka yang dijahit di kepala.
Ia tak beranjak hingga seluruh korban tertangani.
“Saya pastikan semua korban mendapat perawatan terbaik,” tegasnya.
Afni juga mengakui, banyak bangunan cagar budaya minim perawatan akibat keterbatasan anggaran.
Alarm Keras bagi Keamanan Wisata Sejarah
Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa bangunan bersejarah bukan hanya warisan, tapi juga tanggung jawab keselamatan.
Tangsi Belanda, yang selama ini menjadi simbol sejarah Siak, kini menyimpan luka baru—
luka yang jatuh bersama runtuhnya lantai tua dan kepolosan anak-anak di dalamnya.