Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan lebat disertai angin kencang masih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia selama sepekan ke depan, terhitung 6 hingga 12 Januari 2026. Kondisi ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi.
BMKG menyampaikan, dinamika atmosfer saat ini dipengaruhi oleh aktifnya monsun Asia, gelombang ekuator, serta kondisi labilitas udara yang cukup signifikan, sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air.
“Dalam periode 6–12 Januari 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi dan dapat disertai kilat/petir serta angin kencang berdurasi singkat,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.
Sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat meliputi Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, hingga Papua dan Papua Pegunungan. Sementara itu, angin kencang berpeluang terjadi di wilayah Lampung, pesisir selatan Jawa, Kalimantan bagian timur, Sulawesi Selatan, serta Papua Barat Daya.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat berdampak pada meningkatnya risiko banjir dan genangan di daerah rawan, longsor di wilayah perbukitan, pohon tumbang, hingga gangguan aktivitas pelayaran dan penerbangan, khususnya di wilayah pesisir dan perairan terbuka.
Menyikapi hal tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang selama ini rawan bencana hidrometeorologi.
“Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, serta menghindari aktivitas luar ruang saat cuaca ekstrem terjadi,” demikian imbauan BMKG.
BMKG menegaskan, prakiraan cuaca bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan atmosfer. Oleh karena itu, pembaruan informasi cuaca secara berkala menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana.